Ikan di Laut Tercemar Indonesia

Ikan di Laut Tercemar Indonesia
Sumber Ikan Laut yang Merana

Dekan FEMA IPB Dr. Arif Satria, Prima Gandhi HMI Bogor, Maafkanlah, Marissa Haque & Ikang Fawzi

Dekan FEMA IPB Dr. Arif Satria, Prima Gandhi HMI Bogor, Maafkanlah, Marissa Haque & Ikang Fawzi
Dekan FEMA IPB Dr. Arif Satria, Prima Gandhi HMI Bogor, Maafkanlah, Marissa Haque & Ikang Fawzi, Doktoral di IPB

Total Tayangan Halaman

Riset Pencemaran Lingkungan Hidup di Buyat, Sulawesi Utara

Kebun Raya Bali

Kebun Raya Bali
SDALH Marissa Haque-Kebun Raya Bali

Minggu, 17 Juli 2011

Ikang Fawzi: Tentang Gerakan Musisi Go Clean

BIL Project Go Clean Concert

facebook BIL Project Go Clean Concert

Sumber: http://www.nagaswarafm.com/bil-project-go-clean-concert.php


bil project go clean concert radio nagaswara fm bogor radiotemen BIL Project Go Clean Concert

Dari kegiatan penelitian tahunan yang dilakukan oleh Universitas Yale di Amerika Serikat, mereka mengeluarkan Environmental Performance Index (EPI) dari 163 negara. Penelitian ini difokuskan pada 25 indikator seperti kebersihan lingkungan, kesehatan, hingga kondisi ekosistem. Posisi Indonesia dalam EPI 2010 berada pada peringkat 134 dengan nilai 44,6, sama dengan yang diraih oleh negara di Afrika, seperti Kamerun dan Rwanda. Indonesia jauh tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat 28, Malaysia di 54, Thailand di 67, Brunei di 72 bahkan di bawah Laos dan Vietnam. Itu berarti, di lingkup ASEAN, Indonesia menduduki peringkat kebersihan lingkungan paling rendah! Meski begitu, kota Palembang pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu kota paling bersih di wilayah ASEAN pada 2008 lalu. Berarti sebenarnya, potensi untuk meningkatkan kebersihan lingkungan di Indonesia sangat mungkin dilakukan. Tentu, butuh kesadaran dan komitmen dari semua pihak untuk melakukannya.

Berangkat dari fakta tersebut, tiga orang musisi yang dihubungkan oleh tali persaudaraan ipar, Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan yang tergabung dalam BIL (Brother In Law) Project  pada tanggal 7 Juli 2011, bertempat di Bentara Budaya Jakarta akan mengadakan konser dengan tema “GO CLEAN”. Konser ini merupakan langkah awal dari tercetusnya sebuah gerakan yang dinamakan “Musisi Go Clean”.

Gerakan ini didukung penuh oleh beberapa elemen masyarakat dan pemerintahan. Salah satunya, turut hadir Pakar Teknologi Lingkungan dari Universitas Indonesia, yang juga anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta dan Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Firdaus Ali, PhD. “Menurut data Dinas Kebersihan DKI Jakarta, volume sampah ibukota sudah mencapai 26.945 meter kubik dalam sehari, atau setara dengan 6.736 ton. Jika dianalogikan, dalam dua hari, sejumlah sampah ini bisa membangun sebuah bangunan setara Candi Borobudur, karena candi tersebut total volumenya adalah 55 ribu meter kubik,” terang Firdaus yang juga merupakan Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia (IATPI). “Karena itu, saya sangat menyambut hangat dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada gerakan yang dimulai dari teman-teman di BIL Project ini. Karena musik punya kapasitas dan kapabilitas yang tinggi untuk mampu menyentuh kesadaran hakiki dan mendorong orang untuk berbuat apa yang diharapkan dibanding dengan sekadar regulasi dan sanksi semata.”

Tentu, bukan sekadar urusan bersih lingkungan yang ingin dikedepankan oleh BIL Project. Sebab, hampir setiap hari dan di setiap aspek kehidupan, masih banyak hal yang perlu “dibersihkan”. Salah satunya adalah soal maraknya pembajakan. Menurut mereka, hal tersebut juga perlu dibersihkan. Maka, gerakan ini juga didukung oleh Rahayu Kertawiguna dalam kapasitasnya sebagai Sekjen Badan Koordinasi Gerakan Anti Pembajakan (BK-GAP). Selain dikenal sebagai produser dengan intuisi tajam di bawah label Nagaswara, ia juga dikenal karena kiprahnya yang gigih melawan pembajakan di Indonesia.

“Musik adalah bahasa yang universal. Musik dapat menjadi perekat dalam hubungan sosial. Karena itu, dengan musik, kami ingin mengajak semua komponen masyarakat untuk turut peduli dengan kebersihan lingkungan sekitarnya,” cetus Ikang Fawzi, salah satu penggagas gerakan Musisi Go Clean yang diamini Gilang Ramadhan sambil menambahkan, “Paling tidak, gerakan ini juga akan lebih memicu saya dan lingkungan terdekat untuk lebih bersih dan bersih lagi.”

Gerakan ini sebenarnya juga dimotori oleh kenyataan bahwa melalui musik, tiga orang ini “nyambung” melebihi hubungan “saudara ipar”. Mereka bahkan terbiasa menciptakan lagu secara bersama untuk kemudian merekamnya, yang cukup rutin dilakukan dalam 3 tahun terakhir ini ketika mereka “kumpul keluarga”.  Maka, melalui gerakan ini, beberapa karya mereka akan diperdengarkan dalam sebuah mini album bertema “Ramayana”.

Vocal Ikang yang sangat khas dibalut nuansa rock si “multi instrumentalist” Ekki ditambah dengan tabuhan si maestro drum Gilang—belakangan ini tabuhan Gilang dipopulerkan dengan sebutan Rhythm Sawah—maka terciptalah musik dengan keunikan tersendiri. “Ini melalui proses yang cukup panjang. Tentunya, kebanggaan hampir setiap musisi dan seniman pada umumnya adalah ketika mereka bisa menciptakan atau tercipta karya melalui interaksi dan pengalaman bermusiknya menjadi sesuatu yang baru,”  jelas Gilang sambil berharap, “Semoga saja ini akan menjadi jenis musik industri yang khas Indonesia selain dangdut, yang kami ciptakan untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya”.

“Yaaa..!” seru Ekki bersemangat, “Saya juga berharap agar musik ini akan jadi ciri khas untuk menandakan bahwa sebagai bangsa, kita bisa memulai sebuah budaya atau membuat terobosan-terobosan baru. Seperti halnya gerakan Musisi Go Clean ini, boleh jadi merupakan terobosan baru dalam cara mengajak berbudaya bersih dalam semua aspek kehidupan.”

Selain mengeluarkan mini album, menurut Ekki Soekarno, BIL Project bersama elemen-elemen pendukungnya, akan memulai gerakan Musisi Go Clean ini dari Jakarta. Selanjutnya, mengarah ke berbagai daerah sehingga nantinya, ini akan menjadi gerakan nasional. “Sebagai musisi, kami sadar bahwa kami tak bisa memulai gerakan ini tanpa dukungan semua pihak. Karena itu, musik ini kami ciptakan, sekadar untuk mengawali, dan harapannya akan jadi efek bola salju yang populer untuk menjadikan Indonesia bersih, baik bersih lingkungan dan bersih pula mentalitasnya.”

Tentang tema Ramayana dari album tersebut, menurut Ikang yang membuat liriknya, diambil karena Ramayana lekat dengan nuansa cinta. Karena itu, diharapkan, orang akan mencintai gerakan ini. Sehingga, mereka akan dengan sukarela, memulai dari hal kecil, seperti memungut sampah dan membuangnya di bak sampah, hingga bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan.
Selain itu, ke depan, dari gerakan di daerah-daerah, diharapkan akan muncul sosok Rama Shinta yang peduli kebersihan. “Kami nanti akan menyeleksi duta-duta daerah, untuk menemukan sosok Rama Shinta, selain juga mencari band-band atau musisi yang akan menjadi simbol gerakan Musisi Go Clean ini,” terang Ikang. “Dan, dari rangkaian tersebut akan berpuncak pada sebuah pertunjukan akbar, yakni Ramayana Rock Opera yang kami harapkan akan jadi titik tolak yang makin besar untuk menggugah kepedulian pada bangsa, sehingga gerakan kebersihan ini akan menjadi gerakan yang menyadarkan bahwa bangsa kita memang bangsa besar yang berpotensi untuk maju dan terus berkembang.”

Diharapkan, dengan gerakan Musisi Go Clean ini, akan mendorong gerakan bersih-bersih, yang bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga menyelamatkan masa depan bangsa.

Tentang BIL Project
BIL Project yang terdiri dari Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan sebetulnya bukan sekadar grup musik.  Ini lebih merupakan sebuah wahana yang bisa dipakai untuk berbagai gerakan positif atau sebagai wadah untuk ide-ide kreatif yang  bahkan melintasi dunia musik. Seperti halnya ide MUSISI GO CLEAN.

Tapi kenyataan bahwa musik lah perekat utama mereka, mengusung ciri khas tersendiri yang dinamakan musik Pop Rock Sawah tapi kemudian dibuat lebih simpel dengan menyebutnya sebagai Musik Sawah. Mereka ingin agar kesederhanaan sawah, kecantikan sawah, keharmonisan sawah, kebergunaan sawah akan membias pada musik atau lagu-lagu ciptaan mereka. Setelah sekian lama “menghilang” dari jagad panggung, mereka berharap, musik yang mereka cetuskan akan jadi sebuah hiburan dan sekaligus penyemangat sebuah gerakan, yakni gerakan yang mendorong dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan.

Tentang Musik Sawah
Ini adalah berawal dari penyebutan nama atas pola ritem yang dipopulerkan sebagai Rhythm Sawah dan menjadi ciri khas permainan drum Gilang Ramadhan. Sang drummer yang diakui dunia akan kekhasan permainan drumnya dikarenakan mengadaptasi dan kemudian menerjemahkan berbagai ritem yang berakar dari budaya perkusi dari seantero Nusantara yang sangat kaya ini ke dalam permainan dan peralatan drum modern.

Nama “sawah” diambil sebagai representasi bahwa inilah ciri Indonesia dari pola permainan drumnya. Sebab, sawah bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sehingga, dengan pola ritem ini, diharapkan ada ciri musik asli Indonesia, yang ujungnya akan makin mengharumkan nama Indonesia di pentas musik dunia. Dan ketika pola ritem itu dimainkan bersama si “multi instrumentalist” Ekki Soekarno, diperkaya oleh kekhasan vokal Ikang, terciptalah Musik Sawah.

BIL Project Go Clean Concert

facebook BIL Project Go Clean Concert

Sumber: http://www.nagaswarafm.com/bil-project-go-clean-concert.php


bil project go clean concert radio nagaswara fm bogor radiotemen BIL Project Go Clean Concert

Dari kegiatan penelitian tahunan yang dilakukan oleh Universitas Yale di Amerika Serikat, mereka mengeluarkan Environmental Performance Index (EPI) dari 163 negara. Penelitian ini difokuskan pada 25 indikator seperti kebersihan lingkungan, kesehatan, hingga kondisi ekosistem. Posisi Indonesia dalam EPI 2010 berada pada peringkat 134 dengan nilai 44,6, sama dengan yang diraih oleh negara di Afrika, seperti Kamerun dan Rwanda. Indonesia jauh tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat 28, Malaysia di 54, Thailand di 67, Brunei di 72 bahkan di bawah Laos dan Vietnam. Itu berarti, di lingkup ASEAN, Indonesia menduduki peringkat kebersihan lingkungan paling rendah! Meski begitu, kota Palembang pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu kota paling bersih di wilayah ASEAN pada 2008 lalu. Berarti sebenarnya, potensi untuk meningkatkan kebersihan lingkungan di Indonesia sangat mungkin dilakukan. Tentu, butuh kesadaran dan komitmen dari semua pihak untuk melakukannya.

Berangkat dari fakta tersebut, tiga orang musisi yang dihubungkan oleh tali persaudaraan ipar, Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan yang tergabung dalam BIL (Brother In Law) Project  pada tanggal 7 Juli 2011, bertempat di Bentara Budaya Jakarta akan mengadakan konser dengan tema “GO CLEAN”. Konser ini merupakan langkah awal dari tercetusnya sebuah gerakan yang dinamakan “Musisi Go Clean”.

Gerakan ini didukung penuh oleh beberapa elemen masyarakat dan pemerintahan. Salah satunya, turut hadir Pakar Teknologi Lingkungan dari Universitas Indonesia, yang juga anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta dan Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Firdaus Ali, PhD. “Menurut data Dinas Kebersihan DKI Jakarta, volume sampah ibukota sudah mencapai 26.945 meter kubik dalam sehari, atau setara dengan 6.736 ton. Jika dianalogikan, dalam dua hari, sejumlah sampah ini bisa membangun sebuah bangunan setara Candi Borobudur, karena candi tersebut total volumenya adalah 55 ribu meter kubik,” terang Firdaus yang juga merupakan Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia (IATPI). “Karena itu, saya sangat menyambut hangat dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada gerakan yang dimulai dari teman-teman di BIL Project ini. Karena musik punya kapasitas dan kapabilitas yang tinggi untuk mampu menyentuh kesadaran hakiki dan mendorong orang untuk berbuat apa yang diharapkan dibanding dengan sekadar regulasi dan sanksi semata.”

Tentu, bukan sekadar urusan bersih lingkungan yang ingin dikedepankan oleh BIL Project. Sebab, hampir setiap hari dan di setiap aspek kehidupan, masih banyak hal yang perlu “dibersihkan”. Salah satunya adalah soal maraknya pembajakan. Menurut mereka, hal tersebut juga perlu dibersihkan. Maka, gerakan ini juga didukung oleh Rahayu Kertawiguna dalam kapasitasnya sebagai Sekjen Badan Koordinasi Gerakan Anti Pembajakan (BK-GAP). Selain dikenal sebagai produser dengan intuisi tajam di bawah label Nagaswara, ia juga dikenal karena kiprahnya yang gigih melawan pembajakan di Indonesia.

“Musik adalah bahasa yang universal. Musik dapat menjadi perekat dalam hubungan sosial. Karena itu, dengan musik, kami ingin mengajak semua komponen masyarakat untuk turut peduli dengan kebersihan lingkungan sekitarnya,” cetus Ikang Fawzi, salah satu penggagas gerakan Musisi Go Clean yang diamini Gilang Ramadhan sambil menambahkan, “Paling tidak, gerakan ini juga akan lebih memicu saya dan lingkungan terdekat untuk lebih bersih dan bersih lagi.”

Gerakan ini sebenarnya juga dimotori oleh kenyataan bahwa melalui musik, tiga orang ini “nyambung” melebihi hubungan “saudara ipar”. Mereka bahkan terbiasa menciptakan lagu secara bersama untuk kemudian merekamnya, yang cukup rutin dilakukan dalam 3 tahun terakhir ini ketika mereka “kumpul keluarga”.  Maka, melalui gerakan ini, beberapa karya mereka akan diperdengarkan dalam sebuah mini album bertema “Ramayana”.

Vocal Ikang yang sangat khas dibalut nuansa rock si “multi instrumentalist” Ekki ditambah dengan tabuhan si maestro drum Gilang—belakangan ini tabuhan Gilang dipopulerkan dengan sebutan Rhythm Sawah—maka terciptalah musik dengan keunikan tersendiri. “Ini melalui proses yang cukup panjang. Tentunya, kebanggaan hampir setiap musisi dan seniman pada umumnya adalah ketika mereka bisa menciptakan atau tercipta karya melalui interaksi dan pengalaman bermusiknya menjadi sesuatu yang baru,”  jelas Gilang sambil berharap, “Semoga saja ini akan menjadi jenis musik industri yang khas Indonesia selain dangdut, yang kami ciptakan untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya”.

“Yaaa..!” seru Ekki bersemangat, “Saya juga berharap agar musik ini akan jadi ciri khas untuk menandakan bahwa sebagai bangsa, kita bisa memulai sebuah budaya atau membuat terobosan-terobosan baru. Seperti halnya gerakan Musisi Go Clean ini, boleh jadi merupakan terobosan baru dalam cara mengajak berbudaya bersih dalam semua aspek kehidupan.”

Selain mengeluarkan mini album, menurut Ekki Soekarno, BIL Project bersama elemen-elemen pendukungnya, akan memulai gerakan Musisi Go Clean ini dari Jakarta. Selanjutnya, mengarah ke berbagai daerah sehingga nantinya, ini akan menjadi gerakan nasional. “Sebagai musisi, kami sadar bahwa kami tak bisa memulai gerakan ini tanpa dukungan semua pihak. Karena itu, musik ini kami ciptakan, sekadar untuk mengawali, dan harapannya akan jadi efek bola salju yang populer untuk menjadikan Indonesia bersih, baik bersih lingkungan dan bersih pula mentalitasnya.”

Tentang tema Ramayana dari album tersebut, menurut Ikang yang membuat liriknya, diambil karena Ramayana lekat dengan nuansa cinta. Karena itu, diharapkan, orang akan mencintai gerakan ini. Sehingga, mereka akan dengan sukarela, memulai dari hal kecil, seperti memungut sampah dan membuangnya di bak sampah, hingga bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan.
Selain itu, ke depan, dari gerakan di daerah-daerah, diharapkan akan muncul sosok Rama Shinta yang peduli kebersihan. “Kami nanti akan menyeleksi duta-duta daerah, untuk menemukan sosok Rama Shinta, selain juga mencari band-band atau musisi yang akan menjadi simbol gerakan Musisi Go Clean ini,” terang Ikang. “Dan, dari rangkaian tersebut akan berpuncak pada sebuah pertunjukan akbar, yakni Ramayana Rock Opera yang kami harapkan akan jadi titik tolak yang makin besar untuk menggugah kepedulian pada bangsa, sehingga gerakan kebersihan ini akan menjadi gerakan yang menyadarkan bahwa bangsa kita memang bangsa besar yang berpotensi untuk maju dan terus berkembang.”

Diharapkan, dengan gerakan Musisi Go Clean ini, akan mendorong gerakan bersih-bersih, yang bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga menyelamatkan masa depan bangsa.

Tentang BIL Project
BIL Project yang terdiri dari Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan sebetulnya bukan sekadar grup musik.  Ini lebih merupakan sebuah wahana yang bisa dipakai untuk berbagai gerakan positif atau sebagai wadah untuk ide-ide kreatif yang  bahkan melintasi dunia musik. Seperti halnya ide MUSISI GO CLEAN.

Tapi kenyataan bahwa musik lah perekat utama mereka, mengusung ciri khas tersendiri yang dinamakan musik Pop Rock Sawah tapi kemudian dibuat lebih simpel dengan menyebutnya sebagai Musik Sawah. Mereka ingin agar kesederhanaan sawah, kecantikan sawah, keharmonisan sawah, kebergunaan sawah akan membias pada musik atau lagu-lagu ciptaan mereka. Setelah sekian lama “menghilang” dari jagad panggung, mereka berharap, musik yang mereka cetuskan akan jadi sebuah hiburan dan sekaligus penyemangat sebuah gerakan, yakni gerakan yang mendorong dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan.

Tentang Musik Sawah
Ini adalah berawal dari penyebutan nama atas pola ritem yang dipopulerkan sebagai Rhythm Sawah dan menjadi ciri khas permainan drum Gilang Ramadhan. Sang drummer yang diakui dunia akan kekhasan permainan drumnya dikarenakan mengadaptasi dan kemudian menerjemahkan berbagai ritem yang berakar dari budaya perkusi dari seantero Nusantara yang sangat kaya ini ke dalam permainan dan peralatan drum modern.

Nama “sawah” diambil sebagai representasi bahwa inilah ciri Indonesia dari pola permainan drumnya. Sebab, sawah bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sehingga, dengan pola ritem ini, diharapkan ada ciri musik asli Indonesia, yang ujungnya akan makin mengharumkan nama Indonesia di pentas musik dunia. Dan ketika pola ritem itu dimainkan bersama si “multi instrumentalist” Ekki Soekarno, diperkaya oleh kekhasan vokal Ikang, terciptalah Musik Sawah.

Tentang Gerakan Musisi Go Clean
Musisi Go Clean adalah gerakan yang dimulai oleh personel BIL Project. Gerakan ini murni gerakan sosial yang ditujukan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penikmat musik, untuk lebih peduli pada kebersihan sekitarnya.
Musisi Go Clean adalah gerakan yang dimulai oleh personel BIL Project. Gerakan ini murni gerakan sosial yang ditujukan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penikmat musik, untuk lebih peduli pada kebersihan sekitarnya.

Tentang Gerakan Musisi Go Clean: Naga Swara dalam Marissa Haque Fawzi

BIL Project Go Clean Concert

facebook BIL Project Go Clean Concert

Sumber: http://www.nagaswarafm.com/bil-project-go-clean-concert.php


bil project go clean concert radio nagaswara fm bogor radiotemen BIL Project Go Clean Concert

Dari kegiatan penelitian tahunan yang dilakukan oleh Universitas Yale di Amerika Serikat, mereka mengeluarkan Environmental Performance Index (EPI) dari 163 negara. Penelitian ini difokuskan pada 25 indikator seperti kebersihan lingkungan, kesehatan, hingga kondisi ekosistem. Posisi Indonesia dalam EPI 2010 berada pada peringkat 134 dengan nilai 44,6, sama dengan yang diraih oleh negara di Afrika, seperti Kamerun dan Rwanda. Indonesia jauh tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat 28, Malaysia di 54, Thailand di 67, Brunei di 72 bahkan di bawah Laos dan Vietnam. Itu berarti, di lingkup ASEAN, Indonesia menduduki peringkat kebersihan lingkungan paling rendah! Meski begitu, kota Palembang pernah mendapat penghargaan sebagai salah satu kota paling bersih di wilayah ASEAN pada 2008 lalu. Berarti sebenarnya, potensi untuk meningkatkan kebersihan lingkungan di Indonesia sangat mungkin dilakukan. Tentu, butuh kesadaran dan komitmen dari semua pihak untuk melakukannya.

Berangkat dari fakta tersebut, tiga orang musisi yang dihubungkan oleh tali persaudaraan ipar, Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan yang tergabung dalam BIL (Brother In Law) Project  pada tanggal 7 Juli 2011, bertempat di Bentara Budaya Jakarta akan mengadakan konser dengan tema “GO CLEAN”. Konser ini merupakan langkah awal dari tercetusnya sebuah gerakan yang dinamakan “Musisi Go Clean”.

Gerakan ini didukung penuh oleh beberapa elemen masyarakat dan pemerintahan. Salah satunya, turut hadir Pakar Teknologi Lingkungan dari Universitas Indonesia, yang juga anggota Badan Regulator Pelayanan Air Minum DKI Jakarta dan Dewan Sumber Daya Air Provinsi DKI Jakarta, Firdaus Ali, PhD. “Menurut data Dinas Kebersihan DKI Jakarta, volume sampah ibukota sudah mencapai 26.945 meter kubik dalam sehari, atau setara dengan 6.736 ton. Jika dianalogikan, dalam dua hari, sejumlah sampah ini bisa membangun sebuah bangunan setara Candi Borobudur, karena candi tersebut total volumenya adalah 55 ribu meter kubik,” terang Firdaus yang juga merupakan Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Penyehatan dan Lingkungan Indonesia (IATPI). “Karena itu, saya sangat menyambut hangat dan memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada gerakan yang dimulai dari teman-teman di BIL Project ini. Karena musik punya kapasitas dan kapabilitas yang tinggi untuk mampu menyentuh kesadaran hakiki dan mendorong orang untuk berbuat apa yang diharapkan dibanding dengan sekadar regulasi dan sanksi semata.”

Tentu, bukan sekadar urusan bersih lingkungan yang ingin dikedepankan oleh BIL Project. Sebab, hampir setiap hari dan di setiap aspek kehidupan, masih banyak hal yang perlu “dibersihkan”. Salah satunya adalah soal maraknya pembajakan. Menurut mereka, hal tersebut juga perlu dibersihkan. Maka, gerakan ini juga didukung oleh Rahayu Kertawiguna dalam kapasitasnya sebagai Sekjen Badan Koordinasi Gerakan Anti Pembajakan (BK-GAP). Selain dikenal sebagai produser dengan intuisi tajam di bawah label Nagaswara, ia juga dikenal karena kiprahnya yang gigih melawan pembajakan di Indonesia.

“Musik adalah bahasa yang universal. Musik dapat menjadi perekat dalam hubungan sosial. Karena itu, dengan musik, kami ingin mengajak semua komponen masyarakat untuk turut peduli dengan kebersihan lingkungan sekitarnya,” cetus Ikang Fawzi, salah satu penggagas gerakan Musisi Go Clean yang diamini Gilang Ramadhan sambil menambahkan, “Paling tidak, gerakan ini juga akan lebih memicu saya dan lingkungan terdekat untuk lebih bersih dan bersih lagi.”

Gerakan ini sebenarnya juga dimotori oleh kenyataan bahwa melalui musik, tiga orang ini “nyambung” melebihi hubungan “saudara ipar”. Mereka bahkan terbiasa menciptakan lagu secara bersama untuk kemudian merekamnya, yang cukup rutin dilakukan dalam 3 tahun terakhir ini ketika mereka “kumpul keluarga”.  Maka, melalui gerakan ini, beberapa karya mereka akan diperdengarkan dalam sebuah mini album bertema “Ramayana”.

Vocal Ikang yang sangat khas dibalut nuansa rock si “multi instrumentalist” Ekki ditambah dengan tabuhan si maestro drum Gilang—belakangan ini tabuhan Gilang dipopulerkan dengan sebutan Rhythm Sawah—maka terciptalah musik dengan keunikan tersendiri. “Ini melalui proses yang cukup panjang. Tentunya, kebanggaan hampir setiap musisi dan seniman pada umumnya adalah ketika mereka bisa menciptakan atau tercipta karya melalui interaksi dan pengalaman bermusiknya menjadi sesuatu yang baru,”  jelas Gilang sambil berharap, “Semoga saja ini akan menjadi jenis musik industri yang khas Indonesia selain dangdut, yang kami ciptakan untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai bangsa yang kaya akan budaya”.

“Yaaa..!” seru Ekki bersemangat, “Saya juga berharap agar musik ini akan jadi ciri khas untuk menandakan bahwa sebagai bangsa, kita bisa memulai sebuah budaya atau membuat terobosan-terobosan baru. Seperti halnya gerakan Musisi Go Clean ini, boleh jadi merupakan terobosan baru dalam cara mengajak berbudaya bersih dalam semua aspek kehidupan.”

Selain mengeluarkan mini album, menurut Ekki Soekarno, BIL Project bersama elemen-elemen pendukungnya, akan memulai gerakan Musisi Go Clean ini dari Jakarta. Selanjutnya, mengarah ke berbagai daerah sehingga nantinya, ini akan menjadi gerakan nasional. “Sebagai musisi, kami sadar bahwa kami tak bisa memulai gerakan ini tanpa dukungan semua pihak. Karena itu, musik ini kami ciptakan, sekadar untuk mengawali, dan harapannya akan jadi efek bola salju yang populer untuk menjadikan Indonesia bersih, baik bersih lingkungan dan bersih pula mentalitasnya.”

Tentang tema Ramayana dari album tersebut, menurut Ikang yang membuat liriknya, diambil karena Ramayana lekat dengan nuansa cinta. Karena itu, diharapkan, orang akan mencintai gerakan ini. Sehingga, mereka akan dengan sukarela, memulai dari hal kecil, seperti memungut sampah dan membuangnya di bak sampah, hingga bergotong-royong untuk membersihkan lingkungan.
Selain itu, ke depan, dari gerakan di daerah-daerah, diharapkan akan muncul sosok Rama Shinta yang peduli kebersihan. “Kami nanti akan menyeleksi duta-duta daerah, untuk menemukan sosok Rama Shinta, selain juga mencari band-band atau musisi yang akan menjadi simbol gerakan Musisi Go Clean ini,” terang Ikang. “Dan, dari rangkaian tersebut akan berpuncak pada sebuah pertunjukan akbar, yakni Ramayana Rock Opera yang kami harapkan akan jadi titik tolak yang makin besar untuk menggugah kepedulian pada bangsa, sehingga gerakan kebersihan ini akan menjadi gerakan yang menyadarkan bahwa bangsa kita memang bangsa besar yang berpotensi untuk maju dan terus berkembang.”

Diharapkan, dengan gerakan Musisi Go Clean ini, akan mendorong gerakan bersih-bersih, yang bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tapi juga menyelamatkan masa depan bangsa.

Tentang BIL Project
BIL Project yang terdiri dari Ikang Fawzi, Ekki Soekarno, dan Gilang Ramadhan sebetulnya bukan sekadar grup musik.  Ini lebih merupakan sebuah wahana yang bisa dipakai untuk berbagai gerakan positif atau sebagai wadah untuk ide-ide kreatif yang  bahkan melintasi dunia musik. Seperti halnya ide MUSISI GO CLEAN.

Tapi kenyataan bahwa musik lah perekat utama mereka, mengusung ciri khas tersendiri yang dinamakan musik Pop Rock Sawah tapi kemudian dibuat lebih simpel dengan menyebutnya sebagai Musik Sawah. Mereka ingin agar kesederhanaan sawah, kecantikan sawah, keharmonisan sawah, kebergunaan sawah akan membias pada musik atau lagu-lagu ciptaan mereka. Setelah sekian lama “menghilang” dari jagad panggung, mereka berharap, musik yang mereka cetuskan akan jadi sebuah hiburan dan sekaligus penyemangat sebuah gerakan, yakni gerakan yang mendorong dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya kebersihan.

Tentang Musik Sawah
Ini adalah berawal dari penyebutan nama atas pola ritem yang dipopulerkan sebagai Rhythm Sawah dan menjadi ciri khas permainan drum Gilang Ramadhan. Sang drummer yang diakui dunia akan kekhasan permainan drumnya dikarenakan mengadaptasi dan kemudian menerjemahkan berbagai ritem yang berakar dari budaya perkusi dari seantero Nusantara yang sangat kaya ini ke dalam permainan dan peralatan drum modern.

Nama “sawah” diambil sebagai representasi bahwa inilah ciri Indonesia dari pola permainan drumnya. Sebab, sawah bisa dijumpai di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sehingga, dengan pola ritem ini, diharapkan ada ciri musik asli Indonesia, yang ujungnya akan makin mengharumkan nama Indonesia di pentas musik dunia. Dan ketika pola ritem itu dimainkan bersama si “multi instrumentalist” Ekki Soekarno, diperkaya oleh kekhasan vokal Ikang, terciptalah Musik Sawah.

Tentang Gerakan Musisi Go Clean
Musisi Go Clean adalah gerakan yang dimulai oleh personel BIL Project. Gerakan ini murni gerakan sosial yang ditujukan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat, termasuk para penikmat musik, untuk lebih peduli pada kebersihan sekitarnya.

Jumat, 15 Juli 2011

Televisi ABC dari Australia Wawancara Bunda Marissa Haque

Kemarin malam saat Ibu Menik mampir ke rumah saya mengantarkan jahitan baju batik untuk Bunda Marissa Haque ibu asuhku  yang cantik dan cerdas itu, di ceritakan kalau baju batik yang akan dijahit adalah untuk wawancara eksklusif Bunda Icha oleh TV asing dari Australia bernama ABC. Kata Ibu Menik lagi bahwa thema yang akan diangkat adalah terkait kasus pidana illegal logging di Indonesia dan demokrasi semu pemerintahan daerah.

Wuuuuuiiih...berat berat amat ya? semoga bagus deh acaranya Bun!

Sumber: http://anak-anakbundamarissa.blogspot.com


"Televisis ABC dari Australia Mewawancara Bunda Marissa  Haque"

Jumat, 08 Juli 2011

Semoga Pak Menhut Lulus dalam Membantu Pak SBY terkait Illegal Logging: Marissa Haque Fawzi

Jumat, 24 Juni 2011

Pemerintah Tidak Sanggup Atasi Perambahan Hutan Ilegal

Meskipun Inpres moratorium hutan telah dikeluarkan, Menhut Zulkifli Hasan mengakui pemerintah kewalahan mengatasi perambahan ilegal.

Foto: VOA - A. Dewan 
Perambahan hutan ilegal makin marak dan sulit dikendalikan akibat pemekaran wilayah dan tingginya harga pangan dunia.
Organisasi PBB bidang Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) Rabu lalu telah memasukkan hutan tropis Sumatera dalam daftar “situs yang terancam” akibat perambahan di bidang pertanian, pembangunan jalan,  serta perburuan dan pembalakan liar. Padahal, hutan tropis Sumatera seluas 2,5 juta hektar tersebut telah masuk dalam “Daftar Warisan Dunia”  UNESCO pada tahun 2004, karena keanekaragaman hayatinya.

Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan, mengakui pemerintah kewalahan mengatasi perambahan hutan ilegal, yang menyebabkan rusaknya kawasan hutan Indonesia, meskipun Inpres Moratorium hutan telah dikeluarkan. Menurutnya, perambahan hutan semakin marak akibat kenaikan harga pangan dunia dan pemekaran wilayah.

Zulkifli Hasan menyampaikan hal ini kepada pers sesaat sebelum sidang kabinet di Kantor Presiden, hari Jumat.

“Problem kita itu ‘kan kita sudah tidak memberikan konsesi baru di hutan alam primer sejak 2 tahun, (tidak mengizinkan) perluasan HPH dan lahan gambut. Tapi saya akui pertambahan penduduk, pemekaran wilayah juga akibat kenaikan harga-harga komoditi seperti kopi, karet, sawit, cokelat, ini semua komoditi yang merangsang penduduk merambah lahan menjadi perkebunan. Ini terjadi di Merangin, Riau, dan Kalimantan,” papar Hasan.

Mengenai daftar yang dikeluarkan UNESCO, Zulkifli mengatakan sulit mengendalikan kerusakan masif di hutan Sumatera, terutama pembukaan lahan dengan cara dibakar. Ia menjelaskan sudah melakukan sosialisasi kepada Bupati setempat, termasuk penegakan hukum. Tapi, lagi-lagi ia menyebutkan komoditi pangan yang harganya sedang meroket di pasaran dunia, sebagai penyebab perambahan hutan oleh penduduk.

Menurut Hasan, “Kalau UNESCO mengatakan ada kerusakan itu masuk akal. Taman Nasional Kerinci termasuk yang sudah mendapatkan Warisan Dunia. Ada sekitar 15 ribu penduduk di Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung, ya memang (mereka) bukan (melakukan) penebangan liar,  tapi mereka mengalihfungsi hutan menjadi kebun kopi dan lada. Jadi mungkin karena itu (daftar UNESCO dikeluarkan), Saya sudah kesana, bicara dengan Bupati dan aparat kepolisian. Kita sudah melakukan sosialisasi dan menata sedemikian rupa supaya kerusakan itu tidak berlanjut.”

Dulu Kementerian Kehutanan menyediakan lahan pengusahaan (konversi) hutan hanya untuk pengusaha, sehingga masyarakat tidak kebagian.

“Kami sedang kembangkan hutan tanaman rakyat dan hutan desa setahunnya 700 ribu hektar, diberikan kepada setiap Kepala Keluarga untuk dikelola dan menanam tanam-tanaman keras yang bermanfaat. Program ini ada sedikit (dijalankan) di Sumatera tapi sebagian besar di Kalimantan,” ujar Hasan lagi.

Sementara itu, Koordinator Kampanye Hutan TELAPAK, Hapsoro, menilai peringatan UNESCO tidak akan berarti apa-apa tanpa niat pemerintah untuk melakukan perubahan mendasar. Kerusakan hutan di Sumatera kecil kemungkinan untuk bisa dipulihkan.

Hutan alam terluas saat ini yang relatif tidak terjamah berada di Papua, tapi itupun sudah dirusak oleh penebangan legal dan ilegal; juga dikonversi untuk lahan kelapa sawit, kebun Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk bubur kertas (pulp) dan pertambangan. Hal serupa terjadi pula di Kalimantan.
Hapsoro mengatakan, “Selama yang dilakukan pemerintah adalah penyederhanaan aturan-aturan dan tidak diikuti dengan upaya untuk memperbaiki aturan yang sudah ada, dan mengecek apakah aturan itu berjalan dengan baik dan mampu mengatasi korupsi sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan.”

Di samping itu, ungkap Hapsoro, pemerintah juga belum mampu menuntaskan konflik lahan dengan masyarakat adat. Menurutnya, celah ini kerap dimanfaatkan oleh pengusaha untuk mengambil keuntungan sepihak.

"Semoga Pak Menhut Lulus dalam Membantu Pak SBY terkait Illegal Logging: Marissa Haque Fawzi"

Sumber:   http://www.voanews.com/indonesian/news/Pemerintahan-Tidak-Sanggup-Atasi-Perambahan-Hutan-Ilegal-124486649.html

Senin, 13 Juni 2011

"Bunda Marissa Haque: Indonesia, BMT, dan Usaha Mikro Tahun 2011 "

June 14th, 2011

file0082
TAMZIS pembiayaannya fokus pada pasar, sejauhmana sumbangsih BMT kepada pasar?
Kebetulan saya sedang menyelesaikan tesis saya fakultas ekonomi UGM berkaitan dengan BMT, khususnya pada salah satu BMT di Jogjakarta. Saya melihat bagimana BMT memberi sumbangsih besar dalam menghapus lintah darat atau rentenir, padahal pedagang butuh modal. Nah, itulah tugas BMT untuk memberi modal. Makanya diawal saya katakan BMT perlu perlindungan hukum dari pemerintah.




Marissa Haque, beberapa kali dalam talkshownya bicara tentang BMT dan pengembangan usaha kecil dan mikro. Kali ini Wartawan Tamaddun Zubaeri At berhasil mewawancarainya, ketika Marissa menghadiri acara BMT Summit dan Top Managemen BMT Workshop yang diselenggarakan oleh BMT Center di Jakarta bulan Oktober lalu.

Kehadirannya di acara tersebut membuktikan bahwa Marissa peduli BMT.
Berikut pandangan Marissa tentang BMT dan usaha mikro tahun 2011.

Mbak Marissa, apa pendapat anda tentang BMT?
Saya tahu BMT, karena di dekat rumah saya ada BMT. Saya banyak mendengar tentang kelebihan layanan BMT. Dalam akad BMT sesuai syariah tidak ada denda dan kadang tidak pakai jaminan.
BMT juga dalam pembiayaan tetap menggunakan prinsip 5 C + 1 S sebagaimana lembaga keuangan selama ini, yakni karakter, kapasitas, modal, jaminan, kondisi dan satu tambahan syariah dalam memberikan pembiayaan keapada anggota.

Menurut mbak Marissa, apa yang mesti diupayakan untuk BMT?
Menurut saya, perlu diusahakan adanya payung hukum yang jelas buat BMT dari pemerintah terkait dengan perlindungan. Kita tahu, BMT di saat krisis kemarin mampu bertahan dan dapat memulihkan ekonomi bangsa, karena denyutnya riil, nyata pada sektor mikro.

BMT selain memberi modal usaha, sebenarnya BMT juga mengajarkan pola hidup syariah, bagaimana menurut mbak?
Itu memang yang diharapkan dari BMT. Penelitian saya di BMT yang saya teliti setiap bulannya mengadakan pengajian umum dan penggeraknya anaknya sultan yakni Gusti Pembayun dan saya dua kali ikut pengajian tersebut.

Dalam pengajian pedagang juga dikenalkan dengan istilah-istilah ekonomi syariah kepada pedagang. Saya kira istilah-istilah tersebut ketika sering diucapkan dan dipraktekkan, pedagang akan lebih mudah dan cepat memahami. Bisa juga mengenalkan ekonomi syariah melalui radio komunitas yang ada disuatu pasar tertentu, dan itu tidak perlu biaya mahal tapi mengena.

ImageBagaimana prospek BMT di Tahun 2011?
Baik, dan akan semakin baik. Tapi persoalan BMT terbesar adalah payung hukum yang tidak ada atau belum ada.

Apa yang mesti dilakukan BMT untuk meningkatkan pelayanan?
Ya sosialisasi. Bikin pengajian akbar dipasar-pasar. Itu dahwah lo, bukankah khalifah Umar berdakwah dipasar, yakni dakwah bil hal (dakwah dengan tindakan).

Bagaimana BMT ke depan?
Harapannya, BMT tetap low profil, setia melayani sektor mikro yang penting high profit (keuntungan tinggi) itu lebih penting. BMT tidak boleh berubah identitas apalagi spirit. Islam itu harus kaya, makanya harus high profit, itu berkaitan harga diri. Rasulullah sendiri umur 12 tahun sudah dagang, jadi interpreneurship. Ada juga hadis yang mengatakan 90% rizki di jalan Allah diperoleh dari usaha dagang.

Sumber: http://www.tamzis.com/index.php?option=c…
Photo Courtesy of RA Menik Kodrat

Sabtu, 04 Juni 2011

PP No 34 Tahun 2002 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan: Marissa Haque Fawzi

PP No 34 Tahun 2002 Tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan Hutan


Pemanfaatan hutan adalah bentuk kegiatan pemanfaatan kawasan hutan, pemanfaatan jasa lingkungan, pemanfaatan hasil hutan kayu dan bukan kayu serta pemungutan hasil hutan kayu dan bukan kayu, secara optimal, berkeadilan untuk kesejahteraan masyarakat dengan tetap menjaga kelestariannya (P.1; 2)

Pemanfaatan kawasan pada hutan produksi adalah bentuk usaha untuk memanfaatkan ruang tumbuh sehingga diperoleh manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi yang optimal dengan tidak mengurangi fungsi pokok hutan. (P.1; 4)

Pemanfaatan jasa lingkungan pada hutan produksi adalah bentuk usaha untuk memanfaatkan potensi jasa lingkungan dengan tidak merusak lingkungan dan mengurangi fungsi pokok hutan. (P.1;6)

Pemanfaatan hutan pada hutan produksi dapat berupa : (P.25;9)
a. pemanfaatan kawasan;
b. pemanfaatan jasa lingkungan;
c. pemanfaatan hasil hutan kayu;
d. pemanfaatan hasil hutan bukan kayu;
e. pemungutan hasil hutan kayu;
f. pemungutan hasil hutan bukan kayu.

Sumber:http://marissahaque-lingkungan-hidup-sda.blogspot.com/2011/05/pp-no-34-tahun-2002-tentang-tata-hutan.html

“Terbang ke Angkasa Biru”: Bunda Marissa Haque Kontemplasi di Pesawat North West



Dari Bintaro di Banten, Indonesia menuju Athens di Ohio, Amerika Serikat
1-marissa_haque_indonesiasia



Gagasan Terbang ke Angkasa Biru serta jendela yang berjejer banyak dari dalam pesawat saya angkat ke dalam situs ini sebagai sebuah ide dasar yang muncul saat saya sering melakukan perjalanan panjang pulang-pergi dari rumah di Bintaro, Jakarta Selatan menuju Athens, Ohio tempat saya menyelesaikan studi Master keduaku pada bidang studi Film dan Televisi di Ohio University, AS.

Saat matahari tenggelam, lalu terbit kembali, disusul oleh naiknya sang fajar yang disempurnakan oleh langit biru nan cerah membawa hati dan pikiranku melambung tinggi mengikuti arah bias sinarnya. Momen indah nan singkat ini tak pernah kubiarkan luput dari dzikir dan syukurku ke hadirat Nya. Sekaligus mengabadikannya ke dalam beberapa snap shots dengan menggunakan manual dan digital photo camera yang tak pernah tertinggal dalam tasku.

Pertimbangan lainnya mengapa tema Terbang ke Angkasa Biru ini saya pilih, karena saya selalu merasa terus berada dalam perjalanan panjang yang tak pernah henti. Persis seperti cakrawala tak bertepi di atas kepala saat berada di ketinggian ribuan mil diudara. Kehidupan manusia yang terus berterbangan menuju pusarannya di Atas Sana.
2-us-indonesia-kampus-marissa-haque-saat-di-ohio-university-athens-ohio-us-dulu-2000Langkah kehidupanku yang belum selesai, masih terasa panjang untuk disempurnakan. Seiring dengan penerbangan-penerbangan panjang yang kulalui tanpa rasa jemu. Penerbangan-penerbangan yang kuiringi dengan senyum ikhlas serta doa syukur yang tak pernah henti. Sambil menanti penerbangan panjang yang sesungguhnya, menuju muara Sang Kekasih Abadi.

Kontemplasi oleh: Marissa Haque Fawzi
Saat berada di pesawat North West, Detroit, 2003, Menuju Columbus, Ohio, Amerika Serikat.


Sumber: http://marissahaque-lingkungan-hidup-sda.blogspot.com/

dan Sumber: http://www.marissahaque-dulu-pdip.com/terbang/

Entri Populer